Santri Ponpes Metal Manfaatkan Teknologi Silase

PASURUAN - Mengembangkan sistem peternakan yang efektif dan efisien kini banyak dilakukan beragam kelompok usaha di berbagai daerah. Termasuk yang dilakukan Ponpes Metal Al-Hidayah (Ponpes Metal) yang berada di Desa Rejoso Lor, Kec. Rejoso, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Kelompok usaha peternakan yang diinisiasi para santri Ponpes Metal saat ini tengah mengembangkan pembuatan pakan ternak alternatif dan terjangkau melalui kegiatan Bimbingan Teknis Pengembangan Pakan Ternak Alternatif yang dilaksanakan pada Selasa, 1 Desember 2020.

Kegiatan itu bekerja sama dengan PT Pertamina Gas Operation East Java Area (OEJA) dan Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Pasuruan. Melalui bimbingan tersebut para santri membuat produk olahan pakan ternak dengan teknologi silase.

Silase adalah pakan berkadar air tinggi yang telah difermentasi untuk diberikan kepada hewan ternak pemakan tumbuhan. Teknologi ini memanfaatkan campuran hijauan serta limbah pertanian atau perkebunan yang dalam hasil fermentasi kadar air tinggi sebanyak 40-80 persen. Di musim hujan, ketersediaan hijauan cukup melimpah, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan silase.

Penyuluh pada Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Pasuruan Syaifi mengatakan, keunggulan silase yaitu mudah dalam cara pembuatan, kandungan gizi tinggi, serta bersifat organoleptis atau bau harum dan asam yang cenderung disukai hewan ternak.

“Selain itu, silase memiliki daya tahan tinggi. Dapat disimpan hingga delapan bulan," kata Syaifi.

Sebelumnya, selama merintis usaha peternakan berupa ayam, kambing, bebek, dan ikan lele, para santri mengalami berbagai dinamika, salah satunya pemenuhan kebutuhan pakan. Mereka mengeluhkan biaya pakan pabrik yang mahal serta tingkat kebutuhan nutrisi yang berbeda di setiap jenis hewan. Hal ini menjadi tantangan berat dalam menjalankan usaha peternakan mereka.

“Bebek, ayam, dan lele di sini sangat bergantung pada pakan pabrik,” ujar Makin, Ketua Pengurus Ponpes Metal.

Harga pakan itu mencapai Rp 300 ribu per sak. Untuk mereka yang baru merintis dan belajar beternak, angka itu sangat memberatkan. Maka itu, pelatihan pembuatan pakan itu menjadi jalan keluar yang sangat strategis dan juga praktis bagi mereka.

"Melalui pelatihan pembuatan pakan, kami kini dapat mengolah limbah organik menjadi pakan yang berkualitas dengan nilai jual tinggi,” katanya.

Terkait dengan pelatihan itu, Head of QHSSE Pertagas OEJA Fithro Rizki mengatakan, program tersebut merupakan salah satu bagian realisasi komitmen pengembangan mitra binaan CSR Pertagas OEJA.

"Harapannya, penerapan teknologi Silase dapat merangsang para santri untuk terus berinovasi. Selain itu juga mendorong kemandirian dalam menjalankan bisnis peternakannya," ujar Fithro. *Pertagas/HM