Sinergi Pertamina EP dengan Pemerintah Atasi Sampah di Kawasan Taman Nasional Kutai

SANGKIMA – Untuk mengatasi sekaligus mencegah penumpukan sampah rumah tangga serta membuka peluang pemanfaatan sampah menjadi pundi-pundi rupiah, PT Pertamina EP Asset 5 Sangatta Field bekerja sama dengan Balai Taman Nasional Kutai (TNK) mengundang aparat Kecamatan Sangatta Selatan, Desa Sangkima dan Desa Teluk Singkama beserta Direktur Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) dan tokoh masyarakat untuk mengikuti kunjungan belajar cara pengelolaan sampah ke Kota Bontang, Kamis (25/04).

Sampai saat ini sampah masih menjadi masalah di setiap daerah, baik di perdesaan maupun di perkotaan. Volumenya yang semakin meningkat menuntut untuk segera diatasi dan dilakukan tindakan preventif untuk menekan volume sampah yang dihasilkan baik di rumah tangga, perkantoran maupun industri. Tahun 2019 ini secara bertahap PT Pertamina EP Asset 5 Sangatta Field turut berkomitmen menjaga kebersihan lingkungan khususnya dalam penanganan sampah di sekitar wilayah Taman Nasional Kutai melalui perjanjian kerjasama yang dituangkan dalam program Pengelolaan Sampah 3R Berbasis Masyarakat yang nantinya akan menyasar ke 4 Desa/Kelurahan di Kecamatan Sangatta Selatan.

Kunjungan pertama menuju lokasi Bank Sampah Induk yang dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Bontang. Tempat ini mengusung konsep “Pengolahan Sampah Terpadu” sehingga di lokasi kita jumpai para petugas melakukan proses pemilahan antara sampah rumah tangga organik dan non-organik, dengan volume sampah berkisar 10-11 ton/hari. Sampah non-organik berupa plastik bekas kemasan dan sampah organik kebanyakan berupa sisa-sisa makanan.

Bank sampah yang diberi nama “Bessai Berinta” ini menggunakan teknologi teranyar dalam proses pengolahan sampahnya.

Hal ini terlihat saat beberapa petugas nampak memilah sampah yang berjalan di atas Conveyor sepanjang ±20 meter. Sampah non-organik berupa plastik dipilah secara manual oleh petugas dan sampah organik akan berjalan di Conveyor hingga ke bak penampungan yang berada di ujung mesin. Nantinya sampah organik ini akan diolah menjadi pupuk kompos yang kemudian akan dikemas ke dalam karung kecil dan siap dipasarkan. Penggunaan mesin ini mampu menghemat waktu pemilahan sampah sebelum dilakukan proses pengolahan.

 

Setelah mengeksplor “Bessai Berinta”, kunjungan belajar dilanjutkan menuju lokasi Pencacahan dan Produksi Biji Plastik (PROBISTIK) yang berada di Kelurahan Bontang Lestari. Peserta kunjungan belajar disuguhi pemandangan ratusan karung besar berdiameter ±2 meter berisi aneka botol plastik bekas pakai. Sesuai dengan namanya, tempat ini dilengkapi dengan alat pencacah plastik. Meski demikian masih ada proses manual yang terlihat, yakni saat pekerja perempuan membersihkan tempat air kemasan berupa botol dan gelas plastik. Hal ini penting karena gelas air kemasan yang bersih merupakan produk yang nilai jualnya paling tinggi.

Setelah berbagai macam kemasan plastik dipilah sesuai jenisnya, dibersihkan dan dicacah, plastik yang sudah berubah bentuk ini kemudian dikirim ke perusahaan pengolahan biji plastik di Surabaya. Tak tanggung-tanggung, usaha pengolahan sampah plastik ini menghasilkan omzet hingga 116 juta per bulan. 

Kunjungan belajar berakhir di Kelompok Mekar Sari yang merupakan rumah produksi kompos. Kelompok ini digerakkan oleh para ibu rumah tangga di Kelurahan Guntung. Mereka mengolah dedaunan menjadi produk kompos padat dan cair yang hasilnya kemudian disuplai ke perusahaan pupuk setempat.

Terpisah, Asset 5 Legal & Relation Manager Anton Sumartono Raharjo menjelaskan, “Harapan dengan adanya kunjungan belajar ini, masing-masing pihak yang nantinya terlibat dalam pengelolaan sampah di masing-masing desa dapat mendapatkan gambaran proses pengolahan serta manfaat sampah secara rupiah yang semoga dapat menambah motivasi diri untuk berpartisipasi secara total dalam program Pengelolaan Sampah 3R Berbasis Masyarakat inisiasi Pertamina EP Sangatta Field dan Balai TNI," tegasnya.*PEP

Share this post