PDSI Rancang Terobosan untuk Tambahan Pendapatan USD 12 juta

PDSI Rancang Terobosan untuk Tambahan Pendapatan USD 12 juta

Rig _PDSI_CilamayaJakarta –  PT. Pertamina Drilling Service Indonesia (PDSI) bertekad untuk maju terus membuktikan diri menjadi anak perusahan Pertamina berkelas dunia. Lewat perspektif itu, PDSI selalu berupaya untuk meningkatkan kinerja serta melakukan pembenahan diri di semua lini, mulai dari  strata terdalam sampai ke level terluar organisasi.

 

Dalam rangka penguatan kompetensi dan peningkatan kinerja korperasi agar dapat  berkontribusi maksimal dalam pencapaian visi 2025 Pertamina, sebagai induknya untuk  menjadi World Class Energy Champion, PDSI banyak melakukan program-program terobosan dan pembenahan. Salah satunya adalah program Break Through Project Supply Chain Management (BTP SCM) dengan tema SCM improvement initiatives yang bertujuan untuk membenahi pengelolaan regulasi logistik material PDSI.

 

“Dalam war room rutin yang dilakukan, kami menemukan masalah seperti kurang baiknya pencatatan barang inventaris kantor, material yang rusak, serta pengaturan jadwal yang masih berantakan,” tegas Husni Riad, selaku Project Leader. Lebih lanjut Husni menjelaskan, hal ini menyebabkan tingginya angka internal non productive time (NPT) yang berasal dari SCM, yakni hampir 80 persen. Selain itu, belum adanya pengkategorian stock dan non stock material yang jelas juga menjadi alasan harus disegerakannya BTP ini.

 

BTP yang kick off-nya dilakukan pada 29 April 2013 lalu, itu telah menghasilkan standard regulasi yang lebih mumpuni. Contohnya jika sebelumnya regulasi proses pengadaan barang atau jasa masih menggikuti regulasi yang ada di PT Pertamina (Persero) maka setelah BTP dilakukan, PDSI sudah memiliki pedoman yang berupa Tata Kelola Organisasi (TKO) dan Tata Kelola Individu (TKI) pengadaan barang dan jasa. Di samping itu, juga dibuat standarisasi Minimum Stock Level (MSL) per komoditi dan per masing-masing rig sesuai dengan fungsi operasinya.

 

Tidak hanya sampai disitu, dalam BTP SCM ini juga dibuat Rencana Kebutuhan Material (RKM) per masing-masing rig, sehingga apa saja kebutuhan masing-masing rig dapat teregistrasi dengan baik. Kemudian sistem inventory yang sebelumnya dikelola secara manual telah di-upgrade menjadi berbasis web online. “Proses monitoring juga sudah kita perbaharui dengan dibuatnya Procurement Monitoring System (PMS) berbasis web, sehingga proses monitoring pengadaan barang dan jasa lebih tersistem dan terkontrol,” papar Husni.

 

Training dan Development merupakan agenda terakhir dari program BTP SCM. Kurangnya pelatihan yang diberikan kepada material man dan petugas administrasi rig selama ini menjadi pertimbangan yang cukup mendasar betapa pentingnya training tersebut.  Melalui serangkaian perbaikan dan pembenahan yang dilakukan dalam proyek BTP SCM ini, PDSI dapat memangkas persentase non performance time (NPT) sebanyak 75 persen, sehingga tersisa hanya 5 persen saja. “Dengan menempuh langkah-langkah tersebut dan berbagai upaya terobosan lainnya, PDSI akan meningkatkan profit sekitar USD 12 juta,” ucap Husni Riad menebarkan harapan.•DIT
HULU

Share this post