Food Versus Fuel

Food Versus Fuel

Pemerintah kembali menerbitkan kebijakan mengenai BBM. Pada September ini, diterapkan perluasan program penggunaan bauran bahan bakar nabati dalam Solar sebesar 20% (B20). Bahan bakar nabati yang dimaksud adalah Fatty Acid Methyl Esters (FAME), yaitu produk esterifikasi dari minyak kelapa sawit. Setelah diterapkan pada sektor transportasi PSO, saat ini akan diperluas ke sektor yang lain seperti transportasi non PSO, industri dan komersial, usaha perikanan dan pertanian, bahkan usaha mikro. Pemerintah menegaskan bahwa kebijakan ini dipilih lantaran dianggap merupakan cara cepat untuk meningkatkan devisa dan menekan defisit neraca perdagangan.

Terlepas dari alasan Pemerintah, biofuelbanyak menjadi pilihan di beberapa negara, khususnya untuk mengurangi ketergantungan minyak dan juga untuk menurunkan tingkat emisi. Harga produk minyak yang cenderung naik, mendorong meningkatnya penggunaan biofuelsebagai substitusi. OECD dan FAO memproyeksikan produksi biofuel akan meningkat sekitar7,5% dari produksi tahun 2017, dari sekitar 156 juta KL menjadi sekitar 167,8 juta KL di tahun 2025. Diproyeksikan, sekitar 55% produksi ethanol global berasarl dari jagung dan sekitar 26% berasal dari tebu. Sedangkan biodiesel, sekitar 20% berasal dari minyak sayur (vegetable oil) bekas dan sisanya dari komoditas seperti kelapa sawit dan kedelai.