Made In China

Made In China

Perang dagang antara China dan AS belum menampakkan tanda-tanda mereda. Tensi semakin tinggi ketika AS memasukkan Huawei dalam daftar hitam perdagangannya dengan membatasi aktivitas bisnis perusahaan China tersebut di AS. Walau dalam pernyataan resminya AS mengatakan tindakan pemblokiran tersebut didasari oleh kecurigaan bahwa Huawei menjadi alat mata-mata China yang dapat mengancam keamanan AS, tidak sedikit pengamat yang mengatakan bahwa tindakan AS tersebut merupakan upaya menghalangi China untuk menjadi technology superpower.

Ambisi China di bidang teknologi tidak terlepas dari strategi Made In China 2025 (MIC 2025) yang diluncurkan pada tahun 2015, yang bertujuan untuk melepaskan ketergantungan China dari teknologi asing. Pemerintah China mendorong inovasi industri teknologi domestik dari low cost manufacturing menuju ke high tech manufacturing. MIC 2025 menargetkan 40% konten domestik untuk teknologi di tahun 2020 dan 70% di tahun 2025. Huawei sendiri adalah perusahaan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi asal China yang menguasai pasar dunia, serta terdepan dalam mengembangkan teknologi 5G, melampaui Ericsson dan Nokia.

China tidak main-main dalam mewujudkan ambisinya tersebut. Hal ini terbukti dari aplikasi paten yang berasal dari China mencapai lebih dari 53 ribu atau nomor 2 di dunia, namun pertumbuhannya paling tinggi yang mencapai 9,1% dibanding tahun sebelumnya. Lebih jauh, dalam 3 tahun terakhir, Huawei merupakan perusahaan yang paling banyak mendaftarkan paten. Dari total paten yang didaftarkan perusahaan China seperti Huawei dan ZTE di tahun 2018, sekitar 59% adalah terkait dengan teknologi komunikasi digital.

Dengan jumlah populasi terbesar di dunia, China memiliki kekuatan pasar yang besar dan menjadikannya salah satu ekonomi emerging market terbesar. Dengan strategi MIC 2025, China mampu menunjukkan tekadnya untuk tidak terjebak dalam middle-income trap. Indonesia sendiri menurut Bank Dunia termasuk emerging middle-income market. Berdasarkan survei yang dilakukan Bloomberg terhadap 30 lembaga keuangan, 13 di antaranya berpendapat Indonesia akan menjadi negara berkembang yang tercepat laju pertumbuhan ekonominya di tahun 2019.

Mampukah Indonesia memanfaatkan momentum dan seluruh potensinya guna menyusul China?

Sumber : Investor Relations – Corporate Secretary
Untuk komentar, pertanyaan dan permintaan pengiriman artikel Market Update via
email ke pertamina_IR@pertamina.com

Share this post