Penjualan Badak NGL Lampaui Target

Penjualan Badak NGL Lampaui Target

JAKARTA - Di tengah pelemahan harga minyak dan gas dunia, PT Badak Natural Gas Liquefaction atau Badak NGL, perusahaan pengolahan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) di Bontang, Kalimantan Timur yang 55% sahamnya dimiliki PT Pertamina (Persero), sepanjang 2015 mencatatkan penjualan LNG sebesar  189 standar kargo atau sekitar 10,6 juta metrik ton per tahun.

 

“Realisasi penjualan LNG ini sekitar 111%  di atas target sepanjang tahun lalu sebesar 170 standar kargo,” ujar Presiden Direktur PT Badak NGL Salis S Aprillian di Jakarta.

 

Tahun ini perseroan memproyeksikan penjualan LNG sebesar 147 kargo atau sekitar 8,3 juta metrik ton per tahun, turun dibandingkan realisasi tahun lalu. Penurunan penjualan itu lebih disebabkan oleh berkurangnya pasokan gas alam dari hulu.

 

Untuk mencapai target penjualan LNG tahun ini, Badak NGL mengalokasikan belanja modal dan operasi sebesar US$ 200 juta atau sekitar Rp 2,76 triliun.  Alokasi belanja modal antara lain untuk untuk modifikasi kilang (interconnecting module 1&2), DCS retrofit, dan lean gas project.

 

“Kami memang ada maintenance salah satu train, akan tetapi sudah ada back up sehingga kilang tetap bisa beroperasi dengam empat train,” ujarnya.

 

Selain itu, menurut Salis, Badak NGL menyusun beberapa skenario untuk dapat melanjutkan operasi dalam bingkai yang diberi nama the Second Life Cycle of Badak NGL. Di antara skenario itu adalah masuknya produser baru, yaitu ENI Jangkrik yang memiliki gas kering (lean gas) dan kemungkinan  meningkatnya kembali produksi Blok Mahakam pasca-pengalihannya kepada Pertamina.

 

Demi mempertahankan dan bahkan meningkatkan kinerja di tengah pelemahan harga migas, Badak NGL juga melakukan efisiensi biaya (cost-efficiency) di berbagai fungsi/departemen dengan tetap mempertahankan reliabilitas (keandalan) dan keamanan kilang LNG. Efisiensi itu dilakukan antara lain melalui renegosiasi asuransi kilang, inhouse maintenance, in-house dry docking untuk tugboat, renegosiasi pengadaan, in-house traning, dan restrukturisasi organisasi.

Share this post